UN !
“ANAK SIAGA, GURU WASPADA”
Perhelatan
akbar pendidikan dimulai , para pemangku pendidikan mulai sibuk. Dinas
pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, orang tua, dan tentunya
objek UN yakni siswa siap siaga menghadapinya. Kesibukan yang disebabkan ritual
tahunan Ujian Nasional (UN) ini, tentunya dengan target akhir, semua siswa
lulus Ujian Nasional (UN).
Sudah
banyak sekali tulisan-tulisan ,artikel,karangan ilmiah bahkan aksi menolak UN
untuk di laksanakan sebagai syarat kelulusan siswa.Apa daya sesuai cita-cita
bangsa untuk mencerdaskan anak bangsa harus terlaksana , entahlah cerdas yang
mana?
Para
pendidik dan masyrakat mencoba untuk berfikir positif , mungkin saja pemerintah
punya niatan yang mulia memajukan pendidikan bangsa Indonesia.
Faktanya
apa benar semua guru SUDAH WASPADA? Dan apakah yakin anak SUDAH SIAGA? Faktor
system pendidikan yang seakan-akan menjebak objek kajian .Malu adalah resiko
yang harus di ambil sekolah dan para guru jika ada anak didiknya yang tidak
lulus UN.Tapi itu faktanya,psikologi perkembangan anak yang tak lulus UN
menjadi momok besar bagi para orang tua ,kecemasan dan ketakutan akan kejiwaan
sang anak yang dibanggakan. Guru-guru kelas 6, 9 dan kelas 12, harus
mempersiapkan tenaga yang ekstra, Dengan program jam tambahan untuk pendalaman
materi. Proyek kecil berupa Try Out (TO), buku latihan mengerjakan soal Ujian
Nasional (UN), dan proyek kecil dengan biaya “menyesuaikan” lainnya,yang tak mau kalah.Dampaknya adalah kejenuhan
peserta didik dalam belajar.Orang sunda berkata “ Boro-boro hayang ngapalkeun
,boro-boro bisa asup pelajaran , nu aya olab tiheula nguping soal aya 20
paket”.Beban fikiran sebelum bertindak memberikan sumbangan terbesar dalam
proses pembentukan mental anak . Lantas apa yang seharusnya kita lakukan ?
pemerintah lakukan ? guru lakukan ? dan siswa lakukan ?
Tetap
menjadi budak system ?ataukah memperbudaki system ? ”Tanyakan saja pada
rumput yang bergoyang”.
Bimble
dan les privat apakah solusinya ? dengan tersitanya perhatian sekolah untuk Ujian
Nasional (UN), ternyata tak berhenti di ruang kelas saja. Tetapi melampaui
gerbang sekolah dengan kehadiran “Bimbingan Belajar” di masyarakat. Model
marketing ala Bimbel yang dibuat semenarik mungkin, dengan janji menggiurkan
ala pedagang, berupa diskon, jaminan lulus UN, lulus masuk PTN atau jaminan
uang kembali, seakan pendidikan tak mau kalah dengan bursa saham. Kesan ini
solah pendidikan menjadi pasar empuk, dan lokasi tepat tawar menawar.Pendidikan
menjadi lahan bisnis?
Apakah
perjuangan untuk meluluskan sisswa cukup sampai disitu saja?
Sepertinya
tidak , para pembuat soal-soal UN adalah manusia ,dari percetakan sampai
dikelola di sekolah adalah oleh manusia .Apakah tidak ada rasa kasihan jika
sanak saudaranya tidak lulus gara-gara tidak tahu kunci jawaban ? .Miris memang
jika kita para pendidik dan masyrakat selalu berfikiran negative mengenai UN.
Tenang
adalah kunci utama menghadapi hidup
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ ﴿٩﴾
Orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal salih benar-benar akan Kami masukkan ke dalam
(golongan) orang-orang yang salih (QS al-Ankabut [29]: 9).
Jika
kita sudah yakin berusaha dan yakin sudah benar-benar menjalankan aturan dan
bekerja keras sesuai dengan kaidah aturan Allah maka tak akan ada yang perlu di
khawatirkan untuk menjalankan aturan manusia asal sesuai kaidah yang telah di
atur dalam hukum islam .
Jangan
biarkan anak menjadi korban ketidak adilan , dan guru menjadi korban
ketidakmampuan memegang amanah yang sangat besar .
NAMA :
NIA KURNIASIH
MAHASISWA
IAID CIAMIS TARBIYAH / PGMI 4
TENAGA
PENGAJAR DI SDN 1 KERTAHARJA


Tidak ada komentar :
Posting Komentar