“Pembekalan
karakter religi mahasiswa untuk bangsa”
Siapa yang tak kenal dengan Mahasiswa , pemuda yang terkenal dengan agen of change ini ?. Mahasiswa
sebagai agent of change memiliki artian bahwasanya ia terbuka dengan segala
perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus menjadi subjek dan atau
objek perubahan itu sendiri. Dengan kata lain mahasiswa adalah aktor dan
sutradara dalam sebuah pagelaran bertitelkan perubahan.
Selain itu, mahasiswa pun diharapkan dan menjadi harapan untuk
menjadi seorang pemimpin di masa depan yang memiliki kemampuan intelektual,
tangguh dan berakhlak mulia. Itulah yang dimaksud mahasiswa sebagai iron stock,
sebagai tonggak penentu bangsa.Mahasiswa sebagai salah satu elemen bangsa ini
mempunyai peran dan fungsi yang cukup diperhitungkan dalam menjaga kedaulatan
bangsa dan Negara. Para pendiri Negara banyak memperhitungkan peranan penting
pemuda dalam sebuah bangsa . Apalagi pemuda akademisi seperti mahasiswa .Mereka
yang mampu menbangun bangsanya yang berkarakter islami,bukan hanya islam dalam
paradigma identitas tetapi mampu menjadi pelopor pembangunan bangsa yang
bernafaskan islami secara menyeluruh.
Bukankah Al-Qur’an telah menjelaskan betapa pentingnya peranan
pemuda yang mampu menahan hawa nafsunya dalam islam ?. Al-Qur'an juga
menceritakan pemuda kepada kita,yaitu nabi yusuf alaihissalam. Ia di tawari
oleh seorang wanita yang sangat cantik untuk melakukan hubungan biologis,yang
seandainya ia mau melakukannya tidak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya.
Namun nabi yusuf menolak ajakan tersebut dan memilih hidup mendekam di penjara
semata-mata karena keimanannya kepada Allah SWT.Jika mahasiswa di seluruh
negeri ini mampu mengendalikan hawa nafsunya , secara tidak langsung mereka
sedang memperbaiki kondisi Negara yang telah terjadi degradasi moral .Menurut
penelitian Sexual Behavior Survey 2011 dilakukan oleh DKT IndonesiaUsia
rata-rata responden pertama kali berhubungan seks adalah 19 tahun, namun pada
survei lain usianya bisa lebih muda lagi. Berdasarkan profesi, peringkat
tertinggi responden yang pernah berhubungan seks di luar nikah ditempat oleh
mahasiswa (31 persen) karyawan kantor (18 persen), sisanya ada pengusaha,
pedagang, buruh, dsb, termasuk 6 persen murid SMP atau SMA.Pondasi Negara ada
pada pundak penerus generasi pendiri Negara, ketika mereka mampu mengendalikan
dirinya sesuai aturan pembuat Undang-undang yang hakiki maka tidak mustahil
Negara berkarakterkan islam akan terbentuk ibarat tulang tulang yang menyangga
badan .
"Ada 7 golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah di bawah
naungan-Nya. Pada hari itu, tidak ada naungan, kecuali nanungan Allah. Golongan
tersebut adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di dalam beribadah
kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid-masjid,
dua orang yang saling mengasihi karena Allah, mereka bertemu dan berpisah
karena Allah, seorang laki-laki yang diundang oleh seorang perempuan yang
berkedudukan dan berwajah elok (untuk melakukan kejahatan) tetapi dia berkata,
'Aku takut kepada Allah!', seorang yang memberi sedekah, tetapi dia
merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan
oleh tangan kanannya, dan seorang yang mengingat Allah di kala sendirian
sehingga menetes air matanya." (HR Bukhori). Bukan hanya berperan penting
untuk bangsa tapi mereka para pemuda akademisi yang mampu menjadikan dirinya
hamba yang insan kamil serta bermanfaat untuk orang lain .Ada berapa ribukah
mahasiswa Indonesia ? mungkin lebih daripada yang kita bayangkan . Tetapi jika
saja mereka para mahasisiwa terutama mahasiswa berakidahkan islam bersatu membangun ekonomi bangsa , menjadi
pelopor kaidah –kaidah ekonomi islam dan menjadi penopang pundak bangsa , maka
tidak akan terjadi lagi bencana-bencana ekonomi dan penurunan kualitas hidup
mahasiswa.Sebagai nabi-nabi sosial ekonomi pembaharu-pembaharu paradigma
ekonomi dalam islam, mahasiswa sering dijadikan alat ukur pengendali kualitas
hidup bangsa.
Bukan semata-mata tanggung jawab akademik, namun menggunakan
kemampuan akademik itu untuk kepentingan rakyat sesuai nilai moral
bangsa.Mahasiswa memiliki banyak tanggung jawab penting yang bukan sekedar
sebuah status sebagai “Mahasiswa” tapi perananya dalam masyarakatlah yang
sering diperhitunhgkan . Menggunakan nama mahasiswa sebagai bekal membangun
karkater moral bangsa. Karakter yang telah sering di perdengarkan dan
diperlihatkan dalam Al-Qur’an serta membekali diri untuk memberikan pencerahan
bagi rakyat.
Mahasiswa sering di pandang sebagai Guardian of Value berarti
mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat.Nilai-nilai yang
seperti apakah yang penting untuk dijaga? pertanyaan besar itulah yang sering
muncul.Mahasiswa yang seharusnya memahami sebagai insan akademis yang mampu
beerfikir ilmiah serta para pencari kebenaran . Nilai kebenaran yang mutlak
bukan bersumber dari perkataan manusia , tetapi berasal dari kalam allah
sebagai suatu kebenaran yang hakiki yakni Al-Qur’an.Nilai-nilai inilah yang
dijadikan sebagai pembentukan masyarakat yang beradab dan berakhlak sesuai aturan
kebenaran. Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah
sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga nilai-nilai
kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya.Jika sesederhana itu
perananya lantas apa peran mahasiswa dalam agamanya ?.
Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M.Hatta yang
pertama yaitu membentuk manusisa susila dan demokrat yan memiliki keinsafan
tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat. Manusia susila dan demokrat tentunya
takan pernah terwujud jika kualitas mahasiswa itu sendiri hanya berlandaskan
nilai akademisi saja niali yang hanya dimiliki tanpa bermanfaat bagi
kesejahteraan masyarakat.Yang kedua cakap dan mandiri dalam memelihara dan
memajukan ilmu pengetahuan.Dengan cakap dan mandiri mahasiswa tentu akan mampu
memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan.Karena pada hakikatnya manusi hidup
dunia ini tidak akan pernah berhenti belajar.Yang ketiga cakap memangku jabatan
atau pekerjaan di masyarakat.Guru yang paling baik adalah pengalaman hal
tersebut senada dengan peran mahasiswa dalam masyarakat ketika mereka sudah
mampu dan cakap dalam ilmu pengetahuan dan tanggung jawab maka mereka pantas
untuk mampu memangku jabatan atau pekerjaan
dalm masyarakat. Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan
kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini.
Mahasiswa masih tergolong kaum idealis, dimana keyakinan dan
pemikiran mereka belum dipengaruhi oleh parpol, ormas, dan lain sebagainya.Oleh
karenanya konstribusi terhadap bangsa akan lebih besar dibandingkan dengan
rakyat biasa pada umumnya.Konstribusi kepada negara tentunya tonggak awal
membentuk karakter bangsa berkarakter Qur’ani. Arus globalisasi yang melanda
dunia telah melahirkan dampak negatif yang sangat signifikan, baik dampak
politik, ekonomi, budaya, pendidikan maupun religi di setiap individu manusia.
Materialisme telah menjadi trademark yang dibawa oleh globalisasi yang pada
gilirannya telah merubah pola pikir umat manusia kepada dunia materialistik,
sehingga dalam dunia materialistik ini meniscayakan terjadinya sekularisasi
dalam kehidupan bahkan meninggalkan agama, seperti yang diungkapkan oleh Karl
Marx.Tapi dalam islam ada kaidah-kaidah serta aturan-aturan yang telah Allah
tetapkan dalam mengahdapi berbagai perubahan zaman dari waktu ke waktu.
Kuntowijoyo dengan
pendekatan ilmu sosial profetik menjelaskan bahwa “Humanisasi yang dimaksudkan
dalam etika profetik bukanlah humanisme yang berakar pada antroposentrisme
renaissance tetapi berakar pada humanisme teosentris, humanisasi ini lahir
karena humanisme antroposentrisme justru telah menyebabkan terjadinya
dehumanisasi, humanisme dalam etika profetik adalah humanisme yang disemangati
oleh nilai – nilai ketuhanan.Dengan kata lain Peran mahasiswa membangun bangsa
berkarakter Al-Quran dimulai dari diri sendiri dengan menhubungkan kemesraan
bercinta dengan tuhan , agar mampu
menjadi insan penegak kalam Allah.Mampu memanusiakan manusia dan mampu menjadi
kaum intelek muslim yang berjiwaserta berakhlakul karimah.
penulis :
Nia kurniasih
Mahasiswa iaid ciamis semester 6
yang mau coppy cantumin nama penulisnya ya