BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Proses Belajar Mengajar Matematika di Sekolah
Belajar adalah
suatu proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi
antara individu dan individu dengan lingkungannya (Usman, 1995: 5). Belajar sebagai suatu proses, ditandai
dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Winkel (1986: 36) menyatakan bahwa
belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersikap
secara relatif, konstan dan berbekas.
|
Dari
beberapa pendapat para ahli pada intinya belajar merupakan suatu proses untuk
mencapai suatu tujuan yaitu perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan
tersebut adalah perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap yang
bersifat menetap.
Pengertian
mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman kecakapan
kepada anak didik atau usaha mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi
muda/penerus, sejalan dengan pendapat De Quelyu
dan Gazali dalam Abdurrahman(1990: 73) mengatakan bahwa
belajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat
dan tepat .
Usman
(1995: 6) menyatakan mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan
tanggung jawab yang cukup berat, karena berhasilnya pendidikan pada siswa
sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.
Mengajar
pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau
mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi
lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan
proses belajar (Usman, 1995: 6). Sejalan dengan
itu, Hamalik (2001: 8) menyatakan bahwa mengajar
adalah usaha guru untuk mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi
belajar bagi siswa. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk
dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya
mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang ada di kelas maupun yang ada di luar
kelas yang menunjang kegiatan belajar mengajar.
Menurut
Rusyan (1989: 27) bahwa mengajar bukan upaya guru menyampaikan bahan pelajaran, melainkan
bagaimana siswa dapat mempelajari bahan pelajaran sesuai tujuan.
Dari
pengertian belajar dan mengajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapatlah
dikatakan bahwa proses belajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian
perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung
dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan
timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi
berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar
mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru
dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya
penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai
pada diri siswa yang sedang belajar.
Dalam
proses belajar mengajar, keberhasilan guru dalam pengajaran ditentukan oleh
prestasi atau hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh karena itu,
pendidikan mempunyai peranan penting dan diharapkan dapat membimbing siswa agar
mereka menguasai ilmu dan keterampilan yang berguna serta memiliki sifat
positif.
Dalam
mengajar matematika perubahan tingkah laku diarahkan pada pemahaman
konsep-konsep matematika yang akan mengarahkan individu kepada berpikir
matematis berdasarkan aturan-aturan yang logis dan sistematis.
Materi
matematika disusun secara teratur dalam urutan yang logis dan hirarkis, artinya
topik matematika yang telah diajarkan merupakan prasyarat untuk topik
berikutnya. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu
didasari kepada apa yang telah diketahui oleh orang itu. Karena itu untuk
mempelajari suatu topik matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari
seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut.
Hudoyo (1988: 4) menyatakan bahwa belajar
matematika yang terputus-putus akan
mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti bahwa belajar matematika akan
terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu. Sehubungan
dengan itu, maka dalam mengajar guru hendaknya dapat memberikan pengetahuan
prasyarat sebagai dasar untuk mempelajari topik matematika yang diajarkan agar
dalam menyelesaikan soal-soal matematika tidak terlalu banyak mengalami
kesulitan.
Berdasarkan
pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar matematika
adalah proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa secara simultan,
di mana perubahan tingkah laku siswa diarahkan pada pemahaman konsep-konsep
matematika yang akan mengantarkan siswa pada berpikir matematis berdasarkan
aturan-aturan yang logis dan sistematis, sedangkan guru dalam mengajar
hendaknya dapat memilih topik-topik matematika sesuai dengan urutan logis.
2. Prestasi
Belajar Matematika
Poerwadarminta (1974: 769)
mendefinisikan bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang
dalam suatu usaha yang dilakukan atau dikerjakan. Defenisi di atas sejalan
dengan pendapat Winkel (1986: 102) yang menyatakan bahwa prestasi adalah bukti
usaha yang dicapai.
Istilah
prestasi selalu digunakan dalam mengetahui keberhasilan belajar siswa di
sekolah. Prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukan hasil yang
tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan
sesuatu pada saat tertentu. Selanjutnya Soejanto (1979: 12) menyatakan bahwa
prestasi belajar dapat pula dipandang sebagai pencerminan dari pembelajaran
yang ditunjukan oleh siswa melalui perubahan-perubahan dalam bidang
pengetahuan/pemahaman, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi serta nilai
dan sikap.
Prestasi
belajar siswa ditentukan oleh dua faktor yaitu intern dan ekstren. Faktor
intern merupakan faktor-faktor yang berasal atau bersumber dari siswa itu
sendiri, sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal atau bersumber
dari luar peserta didik. Faktor intern meliputi prasyarat belajar, yakni
pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti pelajaran
berikutnya, keterampilan belajar yang dimiliki oleh siswa yang meliputi
cara-cara yang berkaitan dengan mengikuti mata pelajaran, mengerjakan tugas,
membaca buku, belajar kelompok mempersiapkan ujian, menindaklanjuti hasil ujian
dan mencari sumber belajar, kondisi pribadi siswa yang meliputi kesehatan,
kecerdasan, sikap, cita-cita, dan hubungannya dengan orang lain. Faktor ekstern
antara lain meliputi proses belajar mengajar, sarana belajar yang dimiliki,
lingkungan belajar, dan kondisi sosial ekonomi keluarga (Usman, 1995: 12).
Berdasarkan
pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli, maka dapat dikatakan bahwa
prestasi belajar matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar matematika sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Prestasi yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran hasil belajar
siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dan merupakan interaksi antara
beberapa faktor.
3. Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi
pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok
kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan.
Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan
kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam
kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran
berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk
memecahkan masalah.
Pembelajaran
kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola
interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh
Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan
melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran
dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim
mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif
dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil belajar akademik stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan
kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat
menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan sosial
Bertujuan untuk mengembangkan
keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi
tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau
pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Penerapan pembelajaran
kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan
tiga langkah yaitu :
a.
Pembentukan kelompok
b.
Diskusi masalah
c.
Tukar jawaban antar kelompok.
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000:
29) menjadi enam langkah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran
dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai
dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa
kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap
siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk
merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku,
jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok
digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan
masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki
buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau
masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap
siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa
berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui
jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah
diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik
sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa
dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan
jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua
pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran
kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan
oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara
lain adalah :
1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
2.
Memperbaiki kehadiran
3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih
besar
4.
Perilaku mengganggu menjadi
lebih kecil
5.
Konflik antara pribadi
berkurang
6.
Pemahaman yang lebih mendalam
7.
Meningkatkan kebaikan budi,
kepekaan dan toleransi
8.
Hasil belajar lebih tinggi.
B. Kerangka Berpikir
Untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika, guru harus mampu
menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model
pembelajaran.
Dalam pembelajaran
matematika, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan
suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan
materi yang diajarkan, karena melihat kondisi siswa yang mempunyai
karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima
materi pelajaran yang disajikan guru di kelas, ada siswa yang mempunyai daya
serap cepat dan ada pula siswa yang mempunyai daya tanggap yang lama.
Menyikapi kenyataan
ini, penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe
NHT, yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 orang
siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang beragam, ada yang
pintar, sedang, dan ada pula yang tingkat kemampuannya kurang. Kemudian setiap
anggota kelompok diberikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah atau soal
dalam kelompoknya dan diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa merasa
takut salah. Oleh karena itu tidak tampak lagi mana siswa yang unggul karena
semuanya berbaur dalam satu kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadap
kelompoknya tersebut. Dengan demikian, untuk meningkatkan prestasi belajar
matematika siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas khususnya pada
pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah, guru perlu menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan tersebut
karena daya serap siswa dalam menerima materi pada pokok bahasan sistem
persamaan linear dua peubah tidak sama dan diharapkan dengan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT setiap siswa akan mempunyai tingkat kemampuan yang relatif
sama terhadap materi sistem persamaan linear dua peubah dan pada akhirnya prestasi
belajar siswa akan lebih baik.
E. Hasil Penelitian yang
Relevan
Hasil penelitian
yang relevan dengan penelitian ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh
Wa Sinar (2003: 43) yang menyimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat
meningkatkan pemahaman siswa
dalam belajar matematika. Syamsidar (2004: 36) menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT kemampuan siswa kelas I3 semester I
SLTP Negeri 2 Raha dalam memahami konsep operasi hitung pada bilangan bulat
dapat ditingkatkan.
F. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan
kajian teori, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah:
“Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT (Numbered Heads Together) prestasi belajar matematika siswa pada pokok
bahasan sistem persamaan linear dua peubah siswa kelas VIII1 SMP
Negeri 1 Batuatas dapat ditingkatkan”.


Tidak ada komentar :
Posting Komentar